Stok BBM Menipis Hingga Picu Panic Buying
Beredar di media sosial video yang memperlihatkan antrean panjang di sejumlah SPBU dan dikaitkan dengan isu bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia hanya cukup untuk 20 hari akibat konflik di Timur Tengah. Video tersebut memicu kekhawatiran masyarakat dan mendorong terjadinya panic buying di beberapa daerah, seperti Aceh Tengah dan Kepulauan Bangka. Narasi yang beredar menyebut bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi membuat pasokan BBM di Indonesia menipis sehingga masyarakat berbondong-bondong membeli BBM dalam jumlah besar.
Faktanya, pemerintah memastikan bahwa stok BBM nasional masih dalam kondisi aman. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan atau cadangan BBM Indonesia memang sejak lama berada di kisaran 25 hari dan hal tersebut merupakan kondisi normal dalam sistem ketahanan energi nasional. Selain itu, impor minyak mentah Indonesia dari Timur Tengah hanya sekitar 20–25 persen dari total kebutuhan, sementara pasokan lainnya dapat dialihkan dari negara lain seperti Amerika Serikat, Nigeria, dan Brasil. Pemerintah bersama Pertamina juga telah menyiapkan sumber alternatif pasokan sehingga masyarakat tidak perlu melakukan panic buying. Oleh karena itu, isu yang menyebut stok BBM Indonesia akan segera habis dan memicu pembelian berlebihan merupakan informasi yang menyesatkan.