Iran dan Amerika Bekerja Sama Merekayasa Perang demi Minyak
Sebuah klip dari siniar pakar keuangan menyebar dengan narasi yang terdengar seperti pengungkapan besar perang antara Amerika Serikat dan Iran diklaim hanyalah rekayasa elit global untuk mengeruk keuntungan dari fluktuasi harga minyak. Konflik yang menewaskan ribuan orang itu disebut sekadar "skenario cerdas" untuk mengatur pergerakan pasar. Teori konspirasi ini muncul di tengah masyarakat yang memang sedang lelah dan skeptis terhadap perang, dan itu yang membuatnya mudah ditelan begitu saja.
Faktanya, konflik AS-Iran bukan rekayasa. Akarnya sudah tertanam sejak lebih dari empat dekade lalu. Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Abdullah, menegaskan bahwa perang ini mustahil hasil settingan. Permusuhan kedua negara bermula sejak Revolusi Iran 1979 yang memutus seluruh hubungan diplomatik dengan AS. Sejak itu ketegangan terus meningkat melalui serangkaian sanksi, perang proksi, pembunuhan Jenderal Soleimani pada 2020, hingga serangan fasilitas nuklir Iran pada 2025 hingga puncaknya meletus menjadi konflik terbuka pada 28 Februari 2026. Soal keuntungan minyak pun tidak sesuai fakta. Justru warga Amerika yang paling terpukul, sekitar 55 persen responden dalam jajak pendapat Reuters mengaku keuangan rumah tangganya terdampak kenaikan harga bensin, dan Indeks Sentimen Konsumen Amerika menyentuh titik terendah sepanjang masa pada April 2026. Sehingga unggahan yang beredar merupakan konten yang menyesatkan.